SDA Lampung Berlimpah: Wadirut MIND ID Optimistis Nilai Tambah Terus Tumbuh, Guburnur Dorong Unila jadi Motor Hilirisasi

Berita Utama234 views

Cyberindonesia.net – Pertumbuhan ekonomi Lampung menjadi sorotan penting Mining Industry Indonesia (MIND ID). dalam Dies Natalis Universitas Lampung (Unila) ke-61 di Gedung Serbaguna Kampus Biru pada Rabu, 23 September 2026.

BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia tersebut melalui Wakil Direktur Utama (Wadirut) Dany Amrul Ichdan menyebut nilai tambah daerah optimistus terus tumbuh dengan modal sumber daya alam (SDA) yang berlimpah.

Dany yang merupakan alumnus S1 Manajemen Ekonomi Unila tahun 1998, dalam orasi ilmiahnya membeber bahwa produk domestik regional bruto (PDRB) Lampung bertambah sekitar 3,5 kali dalam 15 tahun, dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi sekitar Rp523 triliun pada 2025.

BPS juga mencatat ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025, melampaui rata-rata Sumatera. Namun, menurut Dany, kontribusi manufaktur masih berkisar 17–20 persen. Kenaikan nilai PDRB saja, belum menjawab persoalan struktur pengolahan komoditas.

“Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” ujar Dany.

Ia menyoroti rantai nilai yang berhenti terlalu awal. Nilai sektor pertanian Lampung sekitar Rp150 triliun, sedangkan menurut paparan Dany, sekitar Rp20–30 triliun yang masuk ke industri pengolahan. Ia mengajak daerah memperbesar bagian komoditas yang diolah sebelum dipasarkan agar pekerjaan dan pendapatan dari proses itu lebih banyak tercipta di Lampung.

Dany juga membeber data dari Kementerian Pertanian yang mencatat Lampung sebagai sentra ubi kayu terbesar nasional dengan produksi sekitar 7,9 juta ton pada 2024. Nilai ekonomi ubi kayu sekitar Rp10,6 triliun dan pisang sekitar Rp25,3 triliun. Ia menempatkan jagung pada urutan ketiga dan kopi pada urutan kedua di tingkat nasional, serta menyoroti potensi lada hitam Lampung. Besarnya angka produksi dan nilai komoditas itu, menurutnya, perlu diikuti kemampuan menghasilkan produk olahan dan memperluas pasar.

Untuk menjelaskan langkah yang diperlukan, Dany menggunakan kerangka DAI: distinctive, adaptive, dan inclusive. Distinctive berarti memilih keunggulan yang berangkat dari komoditas Lampung sendiri. Adaptive berarti menyiapkan industri, energi, dan infrastruktur agar mampu mengolahnya. Inclusive berarti petani memperoleh manfaat yang lebih baik, bukan hanya memasok bahan mentah ke mata rantai berikutnya.

Pada sisi adaptif, ia mengapresiasi arah pengembangan Katibung, Kawasan Industri Lampung II (KAIL II), dan Rejosari. Katibung direncanakan sebagai kawasan energi terintegrasi dengan usulan kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari serta pengembangan bioetanol berbahan baku pertanian. Dalam paparan Dany, peletakan batu pertama kawasan itu ditargetkan pada 2027. KAIL II dipersiapkan sebagai ruang pengolahan berbasis potensi agro, sedangkan Rejosari menjadi lokasi yang dijajaki untuk industri bioetanol berbahan baku sorgum. Semua itu masih merupakan rencana yang pelaksanaannya harus dibuktikan.

Sisi inklusif, ia jelaskan melalui bed dryer di Pringsewu. Dalam contoh pengeringan gabah berkapasitas besar yang ia sampaikan, proses yang secara manual dapat memakan waktu hingga 15 hari diperkirakan bisa selesai dalam 10–12 jam dengan mesin. Gabah yang lebih cepat kering dan dapat disimpan memberi petani pilihan untuk tidak menjual segera ketika harga kurang menguntungkan. Contoh ini menunjukkan bahwa hilirisasi juga menyangkut kemampuan petani menjaga mutu dan menentukan waktu penjualan.

Bagi Dany, pekerjaan Lampung berikutnya ialah menghubungkan kawasan industri dengan pasokan lokal dan perbaikan proses pascapanen. Unila dapat berperan melalui riset pengolahan, mutu produk, dan pengembangan usaha yang menjawab kebutuhan petani serta industri. Dengan begitu, ukuran kemajuan tidak berhenti pada bertambahnya produksi atau berdirinya kawasan, tetapi tampak pada pekerjaan dan pendapatan yang diterima masyarakat Lampung.

Dorong Hilirisasi Komoditas Unggulan

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam Rapat Luar Biasa Senat Unila mendorong Unila menjadi motor transformasi ekonomi daerah dengan mengembangkan inovasi dan hilirisasi komoditas unggulan Lampung. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi penting untuk mengubah kekayaan sumber daya alam daerah menjadi produk bernilai tambah.

“Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila,” ucap Gubernur Lampung.

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Lampung menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung ingin memperkuat keterhubungan antara potensi pangan, industri, sumber daya manusia, dan perguruan tinggi. Ia menilai Unila dapat mengambil peran melalui riset dan inovasi yang disesuaikan dengan karakteristik daerah.

Gubernur mengatakan Lampung memiliki kekuatan utama pada sektor pangan dan pertanian. Provinsi ini memiliki sejumlah komoditas unggulan seperti padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, kelapa, kakao, dan kelapa sawit.

Menurut Gubernur Lampung, sekitar 70 persen penduduk Lampung bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Karena itu, perubahan harga komoditas secara langsung memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, termasuk daya beli dan tingkat kesejahteraan petani.

Gubernur menilai peningkatan harga komoditas telah memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat Lampung. Ia menyebut pembelian sepeda motor secara tahunan meningkat 20 persen, sedangkan pembelian mobil meningkat 40 persen pada 2026.

Namun, peningkatan harga komoditas dinilai belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung secara maksimal. Gubernur menyebut pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini berada di angka 5,5 persen, sementara target yang ingin dicapai untuk mendukung Indonesia Emas adalah pertumbuhan 8 persen.

Gubernur menyebutkan persoalan yang disebutnya masih dihadapi Lampung adalah rendahnya tingkat hilirisasi. Dari sekitar Rp165 triliun nilai sektor primer, menurut Gubernur, baru sekitar 40 persen yang telah dihilirisasi, sedangkan sekitar 65 persen lainnya masih dijual dalam bentuk bahan mentah.

Karena itu, Pemprov Lampung ingin mendorong hilirisasi dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan dan sumber daya daerah. Gubernur menilai pengembangan industri tidak harus selalu mengandalkan teknologi dari luar, tetapi dapat dikembangkan bersama sumber daya manusia dan perguruan tinggi di Lampung.

“Enggak banyak anak Unila yang terlibat hilirisasi tebu menjadi gula. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi jagung jadi pakan. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain,” ujar Gubernur Lampung.

Ia mengatakan hilirisasi diarahkan untuk memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk turunan komoditas yang masih diimpor. Gubernur mencontohkan tapioka yang dikirim ke luar negeri, sementara sejumlah produk turunannya seperti glukosa masih didatangkan dari luar.

Dalam konteks itu, Gubernur Lampung meminta Unila memperkuat peran sebagai pusat inovasi dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan karakter Lampung. Pemprov Lampung juga berharap kerja sama dengan Unila dapat menghasilkan teknologi industri, tenaga kerja, dan model hilirisasi yang dapat diterapkan pada komoditas daerah.

Kerja sama yang didorong adalah pengembangan National Cassava Center. Gubernur menyebut produktivitas sejumlah komoditas Lampung masih memiliki ruang peningkatan, termasuk padi yang saat ini sekitar 6 ton per hektare dari potensi 10 ton, jagung sekitar 5 ton dari potensi 10 ton, dan singkong sekitar 25 ton dari potensi 40 hingga 60 ton.

Khusus singkong, Gubernur Lampung mengatakan Lampung memiliki posisi strategis karena sekitar 70 persen produksi tapioka Indonesia berasal dari daerah ini. Namun, produktivitas singkong Lampung masih di bawah 25 ton, sedangkan negara lain telah mencapai lebih dari 40 ton.

Pemprov Lampung bersama Unila menargetkan pengembangan bibit unggul singkong pada tahun depan. Selanjutnya, pada 2027 produktivitas singkong ditargetkan meningkat dua kali lipat, dengan sasaran produksi tapioka Indonesia dapat menjadi yang terbesar di dunia.

Gubernur mengatakan peningkatan produktivitas singkong akan berdampak langsung kepada masyarakat karena hampir 500.000 penduduk Lampung menggantungkan aktivitas ekonominya pada komoditas tersebut. Peningkatan produksi juga diharapkan membuka peluang pengembangan produk turunan seperti glukosa dan maltosa sekaligus mengurangi impor.

Selain hilirisasi, Gubernur Lampung menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia. Ia menyebut generasi Z dan post-Gen Z mencapai 42,77 persen atau hampir 5 juta orang di Lampung, sehingga kelompok tersebut dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembangunan ekonomi daerah ke depan.

Karena itu, transformasi ekonomi yang melibatkan Unila diharapkan tidak berhenti pada pengembangan teknologi dan produk. Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas SDM, menciptakan lapangan kerja formal, serta memastikan potensi pangan Lampung memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Pada Dies Natalis ke-61, Unila sendiri mengusung semangat “Be Strong” yang diarahkan dari kampus yang kuat menuju kampus yang berdampak. Rektor Unila Lusmeilia Afriani menyampaikan bahwa ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya dilihat dari program dan capaian kelembagaan, tetapi juga dari manfaat riset, inovasi, kebijakan, dan pengabdian yang dirasakan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat posisi Unila sebagai penghubung antara pengetahuan, inovasi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan hilirisasi yang berbasis komoditas lokal serta peningkatan produktivitas pertanian, kebijakan tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian Lampung secara berkelanjutan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *