14 Atlet Terancam Tak Ikut Porprov X Lampung, Ini Curhatan Pelatih Judo dan Sambo

Olahraga297 views

Cyberindonesia.net – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Lampung X Tahun 2026 belum lagi dihelat. Tapi, Asril Isnur, pelatih Judo dan juga Ketua Perkumpulan Sambo Indonesia (Persambi) Lampung, sudah mencurahkan hati (curhat) karen ada sekitar 14 atlet terancam tidak dapat mengikuti Poprov X cabang olahraga (cabor) Judo.

Berikut petikan curhat Asril Isnur;

Bapak-Bapak dan seluruh pihak yang saya hormati,

Pada hari Jumat, 30 Oktober 2026, ketika saya berada di KONI, saya melihat bahwa terdapat 14 atlet Judo Lampung yang datanya ditolak sehingga terancam tidak dapat mengikuti PORPROV X Judo 2026.

Sebagai seorang pelatih, jujur saya merasa sangat sedih dan prihatin. Di balik 14 nama tersebut, ada anak-anak kita, saudara kita, sahabat kita, dan adik-adik kita yang telah berjuang selama ini. Mereka telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin banyak hal dalam kehidupan mereka demi mempersiapkan diri untuk sebuah pertandingan.

Saya ingin mengajak kita semua untuk melihat persoalan ini selain dari sudut pandang aturan dan kepentingan organisasi, tetapi juga dari sisi kemanusiaan dan masa depan atlet.

Saya memahami bahwa ada pihak-pihak yang tidak menghendaki atlet Sambo untuk ikut bertanding di PORPROV. Namun, saya ingin mengajak kita berpikir kembali. Mengapa kita tidak memberikan ruang agar anak-anak ini tetap bisa bertanding, selama masih ada ruang untuk mempertimbangkan dan menyelesaikan persoalan yang ada?

Kemudian, ada pula atlet Judo yang tidak diperbolehkan bertanding karena disebut terindikasi sebagai atlet Sambo.

Saya ingin bertanya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah terindikasi tersebut? Apakah hanya karena seorang atlet pernah mengikuti, berlatih, atau memiliki keterlibatan dalam cabang olahraga Sambo, kemudian secara otomatis haknya untuk bertanding di cabang Judo harus dihilangkan?

Mari kita duduk bersama dan melihat persoalan ini secara objektif. Jangan sampai sebuah istilah atau dugaan menjadi dasar untuk menutup kesempatan seorang atlet, tanpa mempertimbangkan fakta, ketentuan, dan perjalanan pembinaan yang telah mereka lalui.

Saya juga ingin menyampaikan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Pada PORPROV sebelumnya, saya pernah menghadapi atlet lawan yang bukan berasal dari pembinaan Judo, melainkan atlet dari cabang olahraga lain. Salah satunya adalah saudara Harry, yang hingga saat ini masih ada dan dapat menjadi saksi pengalaman tersebut.

Namun, pada saat itu saya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Saya menerima pertandingan sebagai bagian dari kompetisi olahraga. Saya tidak menjadikan latar belakang cabang olahraga lawan sebagai alasan untuk mempersoalkan kesempatan bertandingnya.

Selain itu, sepanjang yang saya pahami dari ketentuan THB yang menjadi acuan, tidak terdapat larangan secara tegas yang menyatakan bahwa atlet dari cabang olahraga lain otomatis tidak boleh mengikuti pertandingan Judo. Jika memang terdapat ketentuan yang mengatur hal tersebut, mari kita buka dan kaji bersama agar tidak ada perbedaan penafsiran.

Saya ingin kita semua memahami bahwa persoalan ini bukan hanya tentang PORPROV tahun 2026. Ada masa depan atlet yang sedang kita pertaruhkan.

Kita sedang mempersiapkan atlet-atlet untuk PON 2028 dan PON 2032. Bahkan, beberapa dari 14 atlet yang saat ini dipersoalkan sudah memiliki poin atau peringkat dalam pemeringkatan nasional menuju PON.

Bayangkan, atlet yang sudah berjuang mengumpulkan poin, sudah mengikuti berbagai pertandingan, dan sudah menunjukkan potensinya, justru harus kehilangan kesempatan bertanding karena persoalan yang belum kita selesaikan bersama.

Sangat disayangkan apabila atlet yang sudah memiliki potensi dan kontribusi terhadap pembinaan Judo Lampung justru terhambat perkembangannya. Padahal, kita sendiri sedang membutuhkan atlet-atlet potensial untuk regenerasi dan persiapan PON mendatang.

Jangan sampai hari ini kita mengambil keputusan yang justru merugikan masa depan kita sendiri.

Saya ingin mengatakan satu hal:

Kalau anak-anak kita kalah dalam pertandingan, saya bisa menerima. Kalau mereka kalah karena lawannya memang lebih baik, saya bisa menerima. Itu bagian dari olahraga. Tetapi kalau anak-anak kita harus kalah sebelum bertanding karena keputusan yang menurut saya belum dipertimbangkan secara adil dan bijaksana, terus terang saya tidak bisa menerima hal itu dengan hati yang lapang.

Saya sebagai pelatih tidak rela anak-anak yang sudah berlatih keras harus kehilangan kesempatan bukan karena kemampuan mereka, bukan karena hasil pertandingan, melainkan karena keputusan yang masih bisa kita bicarakan dan pertimbangkan kembali.

Saya tidak ingin kelak mereka mengingat PORPROV ini sebagai momen ketika harapan dan kesempatan mereka dihilangkan oleh keputusan kita sendiri.

Bapak-Bapak yang saya hormati,

Saya juga ingin mengajak kita melihat hubungan antara Judo dan Sambo dari sisi yang lebih luas. Kedua cabang olahraga ini seharusnya bisa saling mendukung, saling menguatkan, dan bekerja sama untuk kepentingan prestasi olahraga Lampung.

Jangan sampai kita justru membangun sekat dan saling mempersulit satu sama lain, sementara tujuan kita sebenarnya sama, yaitu melahirkan atlet-atlet berprestasi untuk Lampung.

Saya berharap Judo dan Sambo dapat membangun pola kerja sama yang saling menguntungkan dalam pembinaan atlet.

Sebagai salah satu bentuk pemikiran ke depan, apabila terdapat atlet Judo yang tidak masuk dalam peringkat atau pemeringkatan poin nasional menuju PON, kita dapat membuka ruang agar atlet tersebut berkesempatan mengikuti pembinaan dan PRAPON Sambo untuk kebutuhan atlet PON, tentunya dengan mengikuti ketentuan dan mekanisme yang berlaku.

Begitu juga sebaliknya, kita harus saling mendukung dan tidak saling menutup pintu bagi potensi atlet. Atlet dari daerah mana pun yang memenuhi persyaratan dan memiliki kemampuan harus diberikan kesempatan melalui mekanisme yang adil.

Jangan kita hanya berpikir tentang siapa yang menang dalam persoalan organisasi hari ini. Mari berpikir tentang siapa yang akan membawa nama Lampung di tingkat nasional dan mengharumkan daerah kita pada PON 2028 maupun PON 2032.

Saya ingin bertanya kepada kita semua:

Apakah kita rela kehilangan 14 atlet potensial hanya karena kita tidak mampu duduk bersama dan mencari jalan keluar?

Apakah kita rela melihat anak-anak yang sudah berlatih begitu lama, yang sudah memiliki harapan, yang sudah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, akhirnya hanya bisa menyaksikan teman-temannya bertanding dari luar arena?

Saya yakin tidak ada satu pun dari kita yang menginginkan hal tersebut.

Oleh karena itu, melalui rapat silaturahmi ini, saya memohon dengan sangat kepada Bapak-Bapak sekalian, termasuk kepada Bapak Karo Rena, Bapak H. Harahap, dan Bapak Sulton yang hadir pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama membantu memperjuangkan agar ke-14 atlet tersebut tetap mendapatkan kesempatan untuk bertanding.

Saya tidak sedang membela kepentingan pribadi, kelompok, ataupun organisasi tertentu. Saya hanya ingin memperjuangkan kesempatan anak-anak kita agar mereka tidak menjadi korban dari persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Mari kita kesampingkan ego dan kepentingan sesaat. Jangan sampai karena kita saling mempertahankan pendapat, justru masa depan atlet yang menjadi taruhannya.

Saya percaya, keputusan yang baik bukanlah keputusan yang membuat satu pihak merasa menang dan pihak lain merasa kalah. Keputusan yang baik adalah keputusan yang mempertimbangkan keadilan, aturan, sportivitas, dan masa depan bersama.

Hari ini mungkin kita sedang membicarakan 14 atlet. Namun, sesungguhnya kita sedang membicarakan 14 masa depan, 14 harapan, dan 14 kesempatan yang sangat berarti bagi perjalanan mereka sebagai seorang atlet.

Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang justru mematahkan semangat anak-anak yang selama ini kita bina sendiri.

Saya memohon, sebelum keputusan akhir ditetapkan, berikanlah kesempatan untuk mempertimbangkan kembali nasib ke-14 atlet tersebut. Mari kita cari solusi bersama agar mereka tetap dapat bertanding sesuai ketentuan yang berlaku.

Saya ingin Judo dan Sambo Lampung menjadi saudara, bukan menjadi pihak yang saling menjatuhkan. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan rasa persaudaraan dan tujuan besar kita.

Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan jabatan, posisi, dan kepentingan organisasi. Namun, anak-anak dan atlet-atlet inilah yang akan melanjutkan perjuangan serta membawa nama Lampung di masa depan.

Jangan wariskan konflik kepada mereka. Wariskanlah kesempatan, persaudaraan, dan semangat untuk berprestasi.

Sekali lagi, saya berharap ke-14 atlet ini bisa ikut bertanding di PORPROV X Judo 2026.

Mari kita putuskan persoalan ini dengan hati yang tulus, pikiran yang jernih, dan niat yang benar-benar untuk kemajuan olahraga Lampung.

Terima kasih. Mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan. Semua ini saya sampaikan karena kecintaan saya terhadap olahraga Judo, terhadap atlet-atlet kita, dan terhadap masa depan olahraga Lampung.

Salam olahraga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *