Bulan Ini, Disdikbud Lampung Launching Double Teaching

Pendidikan131 views

Cyberindonesia.net – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung terus berinovasi merubah pola pembelajaran. Bulan ini, Disdikbud melaunching Program Double Teaching.

Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amrico menyampaikan akan menghadirkan lebih dari satu guru dalam proses pembelajaran di kelas.

Thomas mengatakan, konsep tersebut diharapkan dapat membuat proses pembelajaran lebih komprehensif. Karena para guru dapat saling melengkapi dalam menyampaikan materi sekaligus merespons keberagaman karakter siswa.

“Kami lagi menyiapkan Program Double Teaching. Launching bulan ini. Saya ingin di dalam kelas gurunya tidak cuma satu. Jadi saling melengkapi,” ucap.Thomas ditemui di ruamg kerjanya, Selasa, 8 September 2026, siang.

Thomas menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya bergantung pada kualitas dan kelengkapan sarana prasarana sekolah. Menurutnya, kualitas guru tetap menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran.

“Perbaiki dulu gurunya. Kalau gurunya bagus, sekolahnya juga bagus,” katanya tegas.

Karena itu, Thomas menilai diperlukan perubahan pendekatan dalam proses pembelajaran. Ia mendorong penguatan peran guru sebagai mitra belajar, disertai peningkatan kapasitas pendidik melalui program in-house training.

“Kita galakkan in-house training, secara periodik sehingga ada perubahan metode pembelajaran, penguatan kompetensi guru, serta pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter siswa. Dengan demikian, sekolah mampu menjawab tantangan pendidikan di tengah perubahan teknologi dan kebiasaan belajar generasi saat ini,” tutur Thomas.

Diketahui, perubahan pola belajar semakin bergeser seiring perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Menurut Thomas, budaya membaca buku di kalangan generasi saat ini mengalami penurunan. Jika sebelumnya siswa terbiasa mencari pengetahuan dengan membeli dan membaca buku, kini kebutuhan informasi lebih banyak dipenuhi melalui perangkat digital.

“Kalau dulu siswa ini belajarnya membaca buku, beli dulu di toko buku. Ternyata hal itu sudah tidak terjadi hari ini. Budaya bacaan menurun,” ujar Thomas.

Ia menilai, perubahan kebiasaan tersebut turut memengaruhi ekosistem literasi. Menurutnya, keberadaan toko buku yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini semakin berkurang karena minat masyarakat untuk membeli dan membaca buku juga menurun.

Thomas menyoroti kebiasaan siswa dalam menggunakan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Menurutnya, teknologi memang memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi, tetapi penggunaan yang hanya berorientasi pada kebutuhan sesaat berpotensi membuat pengetahuan yang diperoleh tidak bertahan lama.

“Kalau siswa butuh sesuatu, dia tinggal klik di ChatGPT, Gemini dan lain-lain. Ke luar! Setelah itu, kita lupa! Siswa tidak tumbuh, kritisnya tidak terbangun,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *