Lampung Komitmen Bangun Ekonomi Inklusif dan Berdaya Saing

Berita Utama162 views

Cyberindonesia.net – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung berkomitmen untuk membangun ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing dan berkelanjutan ,sebagai bagian dari visi Lampung Maju menuju Indonesia Emas 2045.

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam acara Coffee Morning bersama pimpinan dunia usaha yang digelar di PT. Nestle Indonesia Panjang Factory, Kota Bandar Lampung, Rabu, 28 Januari 2026.

Gubernur Lampung menyampaikan bahwa hingga 2029, Pemprov Lampung memiliki arah pembangunan yang jelas dengan tiga misi utama. Yakni mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mandiri dan inovatif, memperkuat sumber daya manusia yang unggul dan produktif, serta meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat melalui pemerintahan yang beradab, berkeadilan dan berkelanjutan.

Menurut Kiyai, sapaan akrab Gubernur Lampung, pertumbuhan ekonomi inklusif menjadi kunci agar seluruh potensi Lampung dapat bergerak bersama. Di mana selama ini ekosistem ekonomi di Lampung masih berjalan secara terpisah antara sektor pertanian, industri, dan dunia usaha.

Kiyai Mirza menilai kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah ekonomi belum optimal dirasakan masyarakat, khususnya petani.

“Kami menyadari bahwa selama ini banyak sektor berjalan sendiri-sendiri. Ketika tidak terhubung dan tidak inklusif, dorongan pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas. Pemerintah harus hadir sebagai perajut agar seluruh ekosistem ekonomi dapat tumbuh bersama,” ujar Gubernur Lampung.

Kiyai Mirza menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penentu dalam memperkuat daya saing daerah. Di mana penguatan daya saing dilakukan dengan memperkuat industri, meningkatkan produktivitas petani, serta membangun kualitas sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi dan teknologi.

Selain ekonomi, Kiyai Mirza juga menyoroti rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung yang masih berada di peringkat terbawah di Sumatera dan peringkat 26 secara nasional.

Kondisi tersebut dinilai ironis mengingat Lampung memiliki kedekatan geografis dengan Jakarta, infrastruktur yang memadai, serta akses teknologi yang relatif baik.

“Ini menjadi refleksi bahwa pembangunan kita sebelumnya belum cukup inklusif. Ke depan, penguatan SDM harus menjadi prioritas agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” katanya tegas.

Dalam paparannya, Gubernur Lampung juga memaparkan potensi besar perekonomian Lampung. Pada 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tercatat sebesar Rp483 triliun.

Namun, sekitar 26 persen atau Rp130 triliun masih berasal dari bahan mentah sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan dan sementara kontribusi sektor industri masih sekitar 18 persen atau Rp90 triliun.

Pemprov Lampung mencatat bahwa dari nilai Rp130 triliun sektor pertanian tersebut, baru sekitar 40 persen yang diolah di dalam daerah.  Artinya, masih terdapat potensi lebih dari Rp70–100 triliun yang keluar dari Lampung dalam bentuk bahan mentah tanpa nilai tambah.

“Kita ingin komoditas Lampung diolah di Lampung. Kopi, jagung, padi, singkong, dan komoditas lainnya harus memberi nilai tambah bagi petani dan masyarakat kita,” ujar Kiyai Mirza.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *