Inilah 17 Komoditas Unggulan Lampung

Berita Utama378 views

Cyberindonesia.net – Perekonomian Provinsi Lampung memiliki potensi besar maju pesat. Terlebih Bumi Ruwa Jurai memiliki 17 komoditas unggulan di bidang pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memaparkan potensi tersebut dalam Coffee Morning bersama pimpinan dunia usaha di PT. Nestle Indonesia Panjang Factory, Kota Bandar Lampung, Rabu, 28 Januari 2026.

Kiyai Mirza, sapaan akrab Gubernur Lampung, menyebutkan bahwa pada 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tercatat sebesar Rp483 triliun. Sekitar 26 persen atau Rp130 triliun masih berasal dari bahan mentah sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sementara kontribusi sektor industri masih sekitar 18 persen atau Rp90 triliun.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mencatat bahwa dari nilai Rp130 triliun sektor pertanian tersebut, baru sekitar 40 persen yang diolah di dalam daerah. Artinya, masih terdapat potensi lebih dari Rp70–100 triliun yang ke luar dari Lampung dalam bentuk bahan mentah tanpa nilai tambah.

“Kita ingin komoditas Lampung diolah di Lampung. Kopi, jagung, padi, singkong, dan komoditas lainnya harus memberi nilai tambah bagi petani dan masyarakat kita,” ujar Kiyai Mirza.

Adapun 17 komoditas unggulan Lampung adalah padi, jagung, ubi kayu, nanas, dan pisang di sektor pertanian. Lalu, sektor perkebunan berupa lada, tebu, kopi, karet, kelapa, dan kakao. Kemudian, sektor perikanan berupa sapi potong, kambing, ayam pedaging, ayam petelur, perikanan tangkap, dan perikanan budidaya.

Kiyai Mirza menyebutkan bahwa dari sektor pertanian  produksi padi Lampung dengan luas lahan 531.715 hektare mencapai 2.791.348 ton gabang kering giling (GKG). Angka tersebut menempatkan Lampung pada posisi enam nasional dengan nilai ekonomi mencapai Rp19,5 triliun atau USD 1,21 billion.

Untuk jangung ada di posisi tiga nasional dengan luas lahan 429,314 hektare mampu memproduksi 2.784.126 ton. Nilai ekonomi mencapai Rp15,3 triliun atau USD 956,5 million.

Berikutnya, ubi kayu menempati peringkat satu nasional dengan produksi 7.906.179 ton dari 268.236 hektare lahan tanam. Nilai ekonomi mencapai Rp10,6 triliun atau USD 662,5 million.

Produksi nanas juga peringkat satu nasional dengan total 697.159 ton dari luas lahan 8.166 hektare. Nilai ekonomi sebesar Rp8,3 triliun atau USD 518 million.

Terakhir pisang. Ada di peringkat dua nasional dengan produksi 1.582.327 ton dari luas lahan 10.089 hektare. Nilai ekonomi mencapai Rp25,3 triliun atau USD 1,58 billion.

Adapun di sektor perkebunan, lada menempati posisi dua nasional dengan produksi 15,791 ton dari luas lahan 45.061 hektare. Nilai ekonomi sebesar Rp1,4 triliun atau USD 87 5 million.

Tebu juga di posisi dua nasional dengan produksi 659.450 ton dari luasan lahan 145.570 hektare. Nilai ekonomi mencapai Rp5,2 triliun atau USD 325 milion.

Demikian juga dengan kopi. Ada di peringkat dua nasional dengan produksi 120,377 ton dari luasan lahan 155.165 hektare.

Lalu, karet di posisi sembilan nasional dengan produksi 173,324 ton dari luasan lahan 144.373 hektare. Nilai ekonomi sebesar Rp1,7 triliun atau USD 106,25 million.

Kemudian, kelapa di peringkat 11 nasional. Produksi 83,039 ton dengan luas lahan 89.841 hektare. Nilai ekonomi Rp1,6 triliun atau USD 100 million.

Unggulan terakhir perkebunan adalah kakao. Produksi 48.110 ton dengan luas lahan 76.544 hektare. Nilai ekonomi Rp4,4 triliun atau USD 275 million.

Dari sektor perikanan, komoditas sapi potong berada di peringkat tiga nasional dengan populasi 820.246 ekor. Nilai ekonomi sebesar Rp13,1 trilun atau USD 818,75 million.

Kambing juga peringkat tiga nasional. Populasi 1.966.835 ekor dengan nilai ekonomi Rp4,9 triliun atau USD 306,25 million.

Selanjutnya, ayam pedaging peringkat delaoan nasional. Polulasi 86.895.157 ekor dengan nilai ekonomi Rp1,9 triliun atau USD 118,75 million.

Sementara ayam petelur polulasinya 14.010.539 ekor dengan nilai ekonomi Rp652 miliar atau USD 40,75 million.

Sedangkan perikanan tangkap produksi mencapai 118.722 ton dengan nilai ekonomi Rp5,1 triliun atau USD 318,75 million, serta perikanan budidaya produksi mencapai 175.355 ton dengan nilai ekonomi Rp5,9 triliun atau USD 368,75 million.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *