Cyberindonesia.net – Presiden RI Prabowo Subianto telah memutuskan melanjutkan bantuan pangan beras selama 2 bulan di Oktober dan November 2025. Sasaran penerima sebanyak 18.277.083 dengan anggaran Rp 7 triliun.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas beras memberikan andil terbesar terhadap garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan. Pada Maret 2025, beras berkontribusi sebesar 21,06 persen di perkotaan dan 24,92 persen di pedesaan. Karena itu, pemerintah terus mengupayakan ketersediaan beras yang berkualitas baik dengan harga terjangkau bagi masyarakat.
Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi menyatakan bahwa peningkatan aspek ketepatan sasaran penerima menjadi perhatian utama pemerintah. Dengan menggunakan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), penajaman data penerima sangat penting dilaksanakan sebelum pelaksanaan kembali di bulan depan.
Arief meminta keterlibatan pemerintah daerah untuk membantu pengecekan kembali di wilayah masing-masing. Karena pemerintah daerah yang paling tahu kondisi di wilayahnya.
“Jangan sampai penerima bantuan beras malah diterima pejabat atau keluarga yang berada,” kata Arief saat menerima audiensi Bupati Mesuji Elfianah di Jakarta, Rabu, 17 September 2025.
Badan Pangan Nasional segera mengirimkan data DTSEN ke daerah. “Tujuannya, jika ada koreksi dari daerah, feedback itu kami terima dan bisa disesuaikan. Ini masih ada waktu, karena kami sementara masih menunggu transfer anggaran dari Kementerian Keuangan. Kira-kira seminggu ini tolong bisa disiapkan pengecekannya,” tutur Arief.
Ia juga menyinggung soal pengawasan pelaksanaan program bantuan pangan beras. Pihaknya bersama Perum Bulog akan kembali mengikutsertakan Komisi IV DPR RI.
Bagi Arief, kesinergian ini bersifat positif agar dapat terwujud check and balance yang transparan.
“Jadi, Komisi IV DPR RI ikut mengawasi di lapangan. Mereka langsung melihat penyalurannya ke penerima dan kalau dirasa ada yang kurang sesuai, langsung disampaikan,” kata Arief.
Harapannya, program bantuan pangan beras dapat semakin tepat menyasar ke keluarga berpenghasilan rendah se-Indonesia.
“Saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian dapat lebih terbantu dengan pemberian beras pemerintah yang kualitasnya konsisten Bulog terus jaga,” ujar Arief.
Diketahui, bantuan pangan beras perdana tahun 2025 telah berjalan pada Juni dan Juli. Per 17 September 2025, telah tersalurkan sebanyak 363,5 ribu ton atau 99,44 persen dari total target 365,5 ribu ton.
Adapun daerah yang belum tuntas dikarenakan sebagian besar memiliki tantangan geografis. Sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk proses penyaluran.
Dampak positif penyaluran bantuan dapat terlihat pada pergerakan inflasi bulanan. Inflasi beras pada Juli 2025 berada di 1,35 persen dan menjadi angka tertinggi selama 2025.
Kendati begitu, inflasi beras berhasil ditekan dan pada Agustus 2025 menjadi lebih rendah di angka 0,73 persen.***

