KONI Lampung Inisiasi Desain Besar Olahraga Daerah

Berita Utama390 views

Cyberindonesia.net – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung menginisiasi menciptakan ekosistem olahraga daerah yang efektif, sistematis dan berkelanjutan. Yakni dengan membentuk Desain Besar Olahraga Daerah (DBOD) menjelang Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September 2025.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum KONI Provinsi Lampung Taufik Hidayat kepada Kepala Dinas Pariwisata Lampung Bobby Irawan dalam pertemuan terbatas di GOR Sumpah Pemuda, Kompleks PKOR Way Halim, Kota Bandar Lampung, belum lama ini. Taufik didampingi Wakil Ketua Umum IV Krisna Putra dan Wakabid Organisasi Rudy Antoni.

Taufik menuturkan DBOD merujuk Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). DBON adalah program pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021.

Sejak DBON diibentuk, daerah-daerah lambat untuk menyikapi dengan DBOD. Tampaknya karena menyangkut anggaran.

“KONI menginisiasi, mari kita mulai dengan membentuk DBOD Lampung. Segera kita laksanakan bersama-sama dan membentuk tim qualified untuk menjalankan DBOD Lampung,” kata Taufik Hidayat.

Sebelum pertemuan terbatas tersebut, Taufik Hidayat juga telah berdiskusi dengan sejumlah dosen dan para sarjana olahraga. Ia mengajak bersama-sama merancang Forum Group Discussion (FGD) dengan Pemerintah Provinsi Lampung, swasta dan stakeholder terkait lainnya.

“Inti dari kegiatan besar ini adalah sinergitas. Tidak hanya sebatas pembicaraan, namun implementasi. Jika semua pihak bergandengan tangan, maka dapat terlaksana dan bebannya semakin ringan, hasilnya juga jauh lebih berarti dan nyata,” tutur Taufik Hidayat optimistis.

Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung ini menjelaskan bahwa dalam pengembangan keolahragaan daerah, lingkup utama DBOD adalah olahraga pendidikan, olahraga masyarakat, olahraga prestasi, sport industry (industri olahraga) dan sport tourism (olahraga pariwisata).

“Keberadaan DBOD menuju Lampung bugar, berkarakter unggul dan berprestasi,” ujar Taufik Hidayat.

Selain itu, meningkatkan juga budaya olahraga masyarakat, memperkuat sistem pembinaan serta memajukan perekonomian daerah melalui sport industry dan sport tourism.

Adapun cabang olahraga (cabor) prioritas merujuk DBON meliputi Atletik, Angkat Besi, Balap Sepeda, Bulutangkis, Dayung, Karate, Menembak, Panahan, Panjat Tebing, Pencak silat, Renang, Senam Artistik, Taekwondo, dan Wushu.

Sementara cabor industri adalah Sepak Bola, Futsal, Bola Basket, dan Bola Voli.

“Sport industry juga memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengembangkan dunia pariwisata. Maka, membersamai sport tourism akan memiliki peluang besar bergandengan dunia olahraga dengan pariwisata,” ucap Taufik Hidayat.

Kepala Dinas Pariwisata Lampung Bobby Irawan merespons positif paparan Ketum KONI Lampung. Ia menyebutkan bahwa sport tourism sebuah keniscayaan. Lampung memiliki banyak spot wisata yang bisa dimanfaatkan, mulai spot pantai, gunung hingga alam.

“Sepakat. Saya secara pribadi dan kedinasan sangat mendukung hal ini. Bisa sinergi bersama pemilik dan pengelola destinasi wisata. Ini bisa dikreasikan menyesuaikan cabor yang akan diajak join. Selain untuk menarik pariwisata juga untuk pembinaan atlet prestasi,” katanyam

Bobby menyebutkan beberapa contoh yang sudah menjalin komunikasi untuk sport tourism, terutama yang berlokasi di pantai dan gunung. Seperti paralayang, paramotor, dayung, bola voli dan beberapa lainnya.

“Bahkan, olahraga berkuda juga bisa memanfaatkan area pantai atau gunung sebagai tempat untuk berlatih dan bersosialisasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, olahraga dari Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) juga dapat direalisasikan. Misalnya, layang-layang dan beberapa olahraga tradisional lainnya yang digemari oleh masyarakat Lampung.

Karena itu, Bobby segera melakukan aksi nyata. Sebab, tanpa pelaksanaan di lapangan maka program itu hanya teronggok di atas kertas.

“Saya sepakat dan mendukung inisiasi KONI Provinsi Lampung. Mungkin kita bisa kumpul bersama merealisasikan, mulai dari langkah awal, menyusun tim, membuat job desk, dan seterusnya. Intinya kan juga perlu penganggaran. Jadi, jika konsep sudah terbentuk maka dalam penganggaran tentu berpegangan dengan hal ini,” ucap Bobby.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *