Lampung Fokus Garap Energi Hijau

Berita Utama335 views

Cyberindonesia.net – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memperkuat langkah pengembangan energi hijau dan infrastruktur berkelanjutan melalui kerja sama strategis dengan perusahaan asal Malaysia, Citaglobal Berhad.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) lalu diperkuat dengan Memorandum of Understanding (MoU) di Ruang Kerja Gubernur.Lampung, Rabu, 13 Mei 2026.

Penandatanganan MoU langsung oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Executive Chairman & President Citaglobal Berhad Tan Sri Dato’ Sri Mohamad Norza Zakaria.

Kerja sama ini difokuskan pada penyusunan kajian pengembangan di bidang energi hijau dan pengelolaan limbah, yang meliputi Pengolahan Sampah Menjadi Energi (Waste to Energy) transformasi limbah menjadi sumber daya energi yang efisien, Biomassa Limbah Industri pemanfaatan limbah industri sebagai bahan baku energi alternatif dan Proyek Tenaga Surya pengembangan potensi energi matahari di wilayah Provinsi Lampung.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah peluang investasi strategis. Mulai dari pengembangan energi terbarukan, pengolahan sampah menjadi energi, biomassa, hingga pembangunan kawasan industri dan infrastruktur penunjang ekonomi baru di Lampung.

“Ke depan fokus kami di Provinsi Lampung memang akan mengarah pada energi, terutama energi terbarukan,” ujar Gubernur Lampung.

Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar untuk pengembangan energi hijau. Pemprov Lampung mencatat terdapat tiga bendungan yang dinilai layak dikembangkan menjadi proyek floating solar panel dengan kapasitas mencapai 150 hingga 200 megawatt per bendungan.

Selain itu, Gubernur Lampung mengungkapkan bahwa Lampung juga memiliki potensi biomassa yang besar karena ditopang sektor pertanian dan perkebunan.

Ia menilai limbah pertanian seperti jagung, singkong, padi, hingga tebu dapat diolah menjadi biochar maupun sumber energi alternatif lainnya.

“Lampung ini punya sekitar 1,3 juta hektar potensi biomassa. Ada padi, jagung, singkong, nanas, bagas tebu, dan lainnya,” ujarnya.

Tak hanya energi baru terbarukan. Pemprov Lampung juga menawarkan peluang pengembangan proyek Waste to Energy (WtE).

Pemerintah pusat sebelumnya telah menunjuk Lampung sebagai salah satu daerah yang didorong untuk mengembangkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.

Gubernur Lampung mengatakan bahwa volume sampah di Lampung terus meningkat dan membutuhkan solusi jangka panjang yang terintegrasi.

“Untuk energi dari sampah juga bisa dikembangkan di sini karena pertumbuhan sampahnya masih tinggi,” ucapnya.

Selain energi, pembahasan juga mencakup peluang pengembangan kawasan industri baru di Lampung.

Gubernur mengatakan posisi Lampung yang dekat dengan Jakarta serta memiliki pelabuhan laut dinilai strategis untuk mendukung hilirisasi komoditas dari wilayah Sumatera bagian selatan.

“Kalau targetnya mengambil komoditas dari seluruh Sumatera bagian selatan, Lampung sangat strategis karena memiliki pelabuhan laut dalam,” tuturnya.

Gubernur berharap kerja sama dengan Citaglobal Berhad dapat menjadi langkah awal masuknya investasi Malaysia ke Lampung, khususnya pada sektor-sektor strategis yang mendukung transformasi ekonomi daerah.

“Kami ingin Lampung tidak hanya menjual komoditas mentah, tetapi juga tumbuh melalui hilirisasi dan industri bernilai tambah,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Citaglobal Berhad turut memaparkan pengalaman perusahaan mereka di bidang energi hijau dan infrastruktur di Malaysia.

Mohamad Norza Zakaria menjelaskan, Citaglobal saat ini mengembangkan berbagai proyek clean energy, termasuk floating solar, biogas, Waste to Energy, telekomunikasi, hingga konstruksi.

Ia menyebut perusahaan mereka saat ini tengah mengembangkan proyek floating solar berkapasitas 200 megawatt di Malaysia serta terlibat dalam penyediaan energi hijau untuk proyek jalur kereta East Coast Rail Link (ECRL).

Di sektor pengelolaan lingkungan, Norza menjelaskan Citaglobal memiliki teknologi Waste to Energy asal Jerman yang telah diakuisisi perusahaan. Teknologi tersebut memungkinkan pengolahan sampah menjadi sumber energi baru.

Tak hanya itu. Citaglobal juga mengembangkan proyek biogas bersama perusahaan asal Singapura, Keppel.

Proyek tersebut memanfaatkan limbah kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) yang diolah menjadi gas dengan kandungan sekitar 90 persen metana.

“Gas itu nantinya diekspor ke Singapura untuk kebutuhan power plant,” ujarnya.

Norza juga menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Provinsi Lampung terhadap rencana investasi Citaglobal.

Ia mengaku kehadiran Konsul Jenderal Malaysia dalam pertemuan tersebut memberi keyakinan tambahan bagi pihaknya untuk menjajaki kerja sama di Lampung.

“Kami berharap ini menjadi permulaan yang baik dan insyaallah dapat melaksanakan berbagai proyek di sini,” ucapanya.

Dalam kesempatan tersebut, dilakukan juga penandatanganan MoU antara PT. Lampung Jasa Utama (LJU) dan Citaglobal Environment Management Sdn Bhd (CGEM) menjajaki pengembangan Kawasan Eko-Industri (Eco-Industrial Park) di Provinsi Lampung.

Selanjutnya, ditandatangani juga MoU antara PT. Lampung Jasa Utama (LJU) dan Citaglobal New Energy Sdn Bhd (CGNE) terkait inisiatif pengolahan limbah padat (biomassa) menjadi uap, listrik, dan gas untuk kebutuhan industri serta jaringan listrik (power grid).***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *