Cyberindonesia.net – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung resmi meluncurkan Klinik Inovasi pada Selasa, 11Maret 2026). Launching ini disampaikan melalui sambutan resmi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, diwakili oleh Kepala Balitbangda Provinsi Lampung Yurnalis.
Acara dihadiri jajaran Forkopimda Lampung, para kepala perangkat daerah, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Gubernur Lampung menegaskan bahwa inovasi adalah kebutuhan mutlak di tengah kompetisi global dan derasnya disrupsi teknologi. Daerah, katanya, tidak bisa lagi bekerja dengan pola lama yang stagnan.
“Kita dituntut untuk adaptif, responsif, dan solutif. Inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” kata Gubernur Lampung dalam sambutan yang dibacakan Yurnalis.
Gubernur Lampung menyampaikan bahwa dalam pengukuran Indeks Inovasi Daerah (IID) oleh Kemendagri, Lampung pada tahun terakhir melaporkan 48 inovasi daerah, dengan skor kematangan 52,89 dan predikat “Inovatif.”
Capaian itu disebutnya sebagai modal penting, namun harus terus ditingkatkan agar inovasi benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Selain itu, Lampung saat ini berada pada nilai Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) sebesar 3,5, yang menandakan perlunya peningkatan kinerja, produktivitas, dan daya saing secara menyeluruh.
Klinik Inovasi dirancang sebagai ruang kolaborasi, konsultasi, dan inkubasi gagasan. Di sini, ide, data, riset, dan praktik terbaik akan dipadukan untuk menghasilkan solusi konkret.
Klinik ini juga menjadi fasilitas pendampingan bagi OPD maupun masyarakat untuk mempercepat implementasi inovasi.
Gubernur menekankan bahwa inovasi bukan semata teknologi canggih, tetapi juga penyederhanaan layanan publik, digitalisasi sistem, penguatan tata kelola, hingga model pelibatan masyarakat yang efektif.
Melalui Klinik Inovasi ini, Pemprov Lampung menargetkan: terbangunnya budaya kerja kreatif dan berbasis kinerja; meningkatnya kualitas pelayanan publik; efisiensi anggaran melalui solusi tepat guna; dan penguatan daya saing daerah secara berkelanjutan.
“Saya mengajak seluruh OPD untuk tidak ragu membawa permasalahan ke Klinik Inovasi. Jangan takut mencoba hal baru, selama terukur, berbasis data, dan akuntabel,” kata Gubernur Lampung.
Ke depan, menurut Gubernur, keberhasilan daerah tidak lagi diukur dari besar kecilnya APBD, tetapi seberapa cerdas pemerintah mengelola potensi serta menyelesaikan persoalan publik.
Gubernur Lampung juga meminta Balitbangda sebagai pengelola Klinik Inovasi untuk memberikan pendampingan yang substansial dan solutif, bukan hanya administratif.***

