Cyberindonesia.net – Verifikasi berkas cabang olahraga (cabor) oleh Tim II KONI Lampung di Lampung Utara (Lampura), pada Kamis, 26 Februari 2026, tak sekadar menjadi ajang pemeriksaan administratif.
KONI setempat memanfaatkan kehadiran tim provinsi untuk menyuarakan persoalan mendasar. Yakni, desakan percepatan penerbitan Technical Handbook (TH) Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X.
Ketidakpastian regulasi teknis dinilai menjadi penghambat utama dalam penyusunan program latihan yang terukur. Dan tanpa pegangan buku panduan teknis sejak dini, pelatih di daerah kesulitan merancang periodisasi latihan maupun strategi seleksi atlet yang presisi.
“Kami butuh kepastian aturan main, jauh-jauh hari. Jangan sampai regulasi baru turun saat injury time, karena dampaknya merusak skema pembinaan yang sudah disusun,” kata perwakilan KONI Lampura kepada Imam Safei dari Bidang Binpres KONI lampung.
Keterlambatan TH kerap memaksa daerah bekerja dua kali, merevisi program latihan dan mengubah target sasaran secara mendadak. Situasi itu yang ingin dipangkas Lampura agar persiapan menuju ajang empat tahunan tersebut lebih efektif dan efisien.
Selain isu regulasi, Lampura juga menyoroti gemuknya nomor pertandingan yang kerap dipaksakan dalam setiap gelaran Porprov.
“Daerah meminta KONI Lampung lebih realistis dan selektif,” kata Imam.
Sementara itu, Koordinator Tim Verifikasi II Nazwar Basyuni menyatakan bahwa banyaknya nomor yang dipertandingkan tanpa filter kualitas justru membebani KONI kabupaten/kota. Imbasnya merembet ke segala lini. Mulai pembengkakan anggaran kontingen, logistik yang tak efisien, hingga terpecahnya konsentrasi pembinaan atlet.
“Lampura mengusulkan pemangkasan nomor-nomor non unggulan demi menjaga marwah kompetisi yang kompetitif, bukan sekadar ramai peserta,” ujar Bang Naz, sapaan akrabnya.
Dalam diskusi tersebut, Lampura juga turut menitipkan sejumlah nama atlet potensial yang butuh atensi khusus provinsi. Seperti Gading Mukti Wibowo, atlet Mixed Martial Arts (MMA) yang kini tengah naik daun.
Lampura berharap, atlet dengan prospek menembus level nasional seperti Gading tidak dibiarkan jalan sendiri. Intervensi provinsi melalui pemusatan latihan terpadu dan akses kompetisi berjenjang sangat dinanti.
“Jangan sampai pembinaan putus di kabupaten. Aset seperti ini harus dikawal agar bisa berbicara banyak di level nasional,” kata perwakilan KONI Lampura.***

